Latest Releases

Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Maret 2013

Pulau Kemaro

Pulau Kemaro, merupakan sebuah Delta kecil di Sungai Musi, terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro terletak di daerah industri,yaitu di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju dan Sungai Gerong. Pulau kemaro berjarak sekitar 40 km dari kota Palembang. Pulau Kemaro adalah tempat rekreasi yg terkenal di Sungai Musi. Di tempat ini terdapat sebuah vihara cina (klenteng Hok Tjing Rio). Di Pulau Kemaro ini juga terdapat kuil Buddha yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam. Di sana juga sering diadakan acara Cap Go Meh setiap Tahun Baru Imlek.

Di Pulau Kemaro juga terdapat makam dari putri Palembang, Siti Fatimah. Menurut legenda setempat yang tertulis di sebuah batu di samping Klenteng Hok Tjing Rio, pada zaman dahulu, datang seorang pangeran dari Negeri Cina, bernama Tan Bun An, ia datang ke Palembang untuk berdagang. Ketika ia meminta ijin ke Raja Palembang, ia bertemu dengan putri raja yang bernama Siti Fatimah. Ia langsung jatuh hati, begitu juga dengan Siti Fatimah. Merekapun menjalin kasih dan berniat untuk ke pelaminan. Tan Bun An mengajak sang Siti Fatimah ke daratan Cina untuk melihat orang tua Tan Bun Han. Setelah beberapa waktu, mereka kembali ke Palembang. Bersama mereka disertakan pula tujuh guci yang berisi emas. Sesampai di muara Sungai Musi Tan Bun han ingin melihat hadiah emas di dalam Guci-guci tersebut. Tetapi alangkah kagetnya karena yang dilihat adalah sayuran sawi-sawi asin. Tanpa berpikir panjang ia membuang guci-guci tersebut kelaut, tetapi guci terakhir terjatuh diatas dek dan pecah. Ternyata didalamnya terdapat emas. Tanpa berpikir panjag lagi ia terjun ke dalam sungai untuk mengambil emas-emas dalam guci yang sudah dibuangnya. Seorang pengawalnya juga ikut terjun untuk membantu, tetapi kedua orang itu tidak kunjung muncul. Siti Fatimah akhirnya menyusul dan terjun juga ke Sungai Musi. Untuk mengenang mereka bertiga dibangunlah sebuah kuil dan makam untuk ketiga orang tersebut.(wiki)

Saat berkunjung ke Palembang, menyusuri Sungai Musi adalah kegiatan wajib yang harus ada dalam to do list setiap wisatawan domestik maupun asing. Banyak atraksi wisata yang bisa dinikmati mulai dari tepi hingga ujung sungai, mulai dari pagi hari hingga malam menjelang.

Tak jauh dari sungai yang menjadi ikon kota Palembang tersebut, terdapat satu Pulau yang terkenal dengan nuansa Tionghoanya dan selalu ramai dikunjungi wisatawan terutama saat hari Imlek dan Cap Gomeh. Ya, di Pulau Kemaro memang berdiri kokoh sebuah kuil, patung Buddha dan juga Pagoda bernama Hok Cing Bio yang dibangun pada tahun 2006 dengan tinggi 9 lantai full ornamen khas negri Tiongkok. Hmm benar-benar seperti berada di daratan China rasanya! Sesuai dengan namanya yaitu “Kemaro”, pulau ini tidak pernah mengalami banjir saat hujan tiba alias selalu kemarau meskipun air di Sungai Musi meluap.

Pulau Kemaro images: myhotelmyresort.com

Nah, untuk Anda yang hendak ke pulau ini bersama pasangan, ada tempat yang asyik harus dikunjungi yaitu pohon cinta. Pohon cinta disini adalah sebuah pohon beringin besar dan tua dengan ranting yang sangat rimbun. Konon, menurut penduduk asli setempat, bila sepasang kekasih mengukir namanya di Pohon Cinta tersebut maka cinta mereka akan abadi dan berlanjut ke jenjang pernikahan. Ada pula yang mengatakan sebaliknya. Bagi yang belum memiliki pasangan, jika menuliskan nama dengan nama orang yang disukai, maka jalinan kasih akan terjalin di antara keduanya. Namun karena kuatnya mitos tentang cinta tersebut, ranting pohon mendadak jadi penuh coretan hingga kini terdapat larangan untuk tidak mencorat-coret pohon guna menjaga kelestarian Pohon Cinta.

Untuk bisa masuk ke pulau ini pengunjung yang datang tidak dikenakan biaya masuk oleh pengelola. Walaupun gratis, fasilitas umum di pulau ini tetap diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung. Untuk mencapai Pulau Kemaro, Anda hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan perahu dari Sungai Musi ataupun berangkat dari dermaga Benteng Kuto Besak dengan tarif Rp 50.000 hingga Rp 150.000 sekali carter.

Akses ke Pulau Kemaro menjadi lebih mudah beberapa hari menjelang Cap Go Meh dengan dipasangnya Jembatan Ponton dari Dermaga Kemaro, biasanya terpasang sekitar tiga hari sebelum puncak perayaan. Ketika menjelang perayaan tersebut, umumnya jumlah pengunjung yang datang bisa mencapai 3 kali lipat dibandingkan dengan hari biasa. Wow rame deh!
Jadi, tunggu apalagi? Yuk segera sambangi Pulau Kemaro saat liburan nanti!. (Raisa)

Source:http://myhotelmyresort.com/blog/wisata-ke-pulau-penuh-cinta-pulau-kemaro/
Read »

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin atau Masji Agung Palembang merupakan masjid terbesar yang ada di Palembang. Masjid ini terletak di kelurahan 19 Illir, Kecamatan Illir Barat I, Jl. Cik Agus Kiemas No.1. Letak masjid yang berada di antara Jl. Merdeka dan Jl. Sudirman dan memiliki gerbang utama yang menghadap Bundaran air mancur, memudahkan pengunjung untuk menemukannya.

Masjid Agung Palembang
Masjid Agung Palembang

Sejarah dan renovasi

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin yang didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I mengalami sejarah singkat dan beberapa renovasi, yaitu:

1 Jumadil Akhir 1151 H (1738 M), peletakan batu pertama di belakang Benteng Kuto Besak.
28 Jumadil awal 1161 H (26 Mei 1748 M), masjid selesai dan diresmikan.
1758-1774 pada pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin, menara sisi barat dibangun.
1848, perbaikan masjid.
1879, perluasan dan perubahan bentuk serambi menjadi seperti pendopo.
1930, penambahan jarak pilar dan atap.
1952 oleh Yayasan Masjid Agung, penambahan bangunan berkubah.
1966-1969, penambahan ruang lantai 2.
22 Januari 1970 dan 1 February 1971, pembangunan menara dan peresmian.
2000, diperluas.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin diresmikan pada 16 Juni 2003 oleh Megawati Soekarno Putri. Masjid ini menjadi saksi perjuangan dari rakyat Sumatra Selatan melawan Belanda dalam perang selama 5 hari 5 malam yang terjadi di depan masjid. Di tempat tersebut, dibangun sebuah Monumen Perjuangan Rakyat Sumatra Selatan dan diabadikan perangko RI tahun 1975.(htldekatid)

Read »

Gunung Dempo Pagaralam

Berdiri 3159 meter di atas permukaan laut, Gunung Dempo adalah gunung tertinggi di Sumatera Selatan. Bersama dengan Gunung Marapi di pulau Sumatera, Gunung Dempo adalah puncak tertinggi di pegunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang pulau Sumatera. Setelah menyeruput secangkir teh manis hangat di pagi hari, mendengarkan kicauan burung di pohon-pohon dan menyaksikan matahari perlahan terbit di cakrawala, adalah pagi dan awal yang sempurna untuk mendaki ke puncak Gunung Dempo.

Gunung Dempo Pagaralam
Gunung Dempo Pagaralam

Terletak diperbatasan antara propinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu di pantai barat Sumatera, Gunung Dempo terletak di Kabupaten Pagar Alam. Seperti namanya Pagar Alam yang berarti pagar alam, nyatanya seluruhnya tempat ini dikelilingi perbukitan dan pegunungan. Butuh sekitar 7 jam mengemudi untuk mencapai Pagar Alam dari palembang namun sekarang sudah bisa menggunakan transportasi via udara gengan waktu kurang dari 1 jam, baik itu dari plg-pga, bkl-pga, dan juga jkt-pga, dan 15 kilometer dari pusat kota Pagar Alam ke Gunung Dempo. Perjalanan menuju gunung ini tidak akan membosankan, karena Anda akan dimanjakan dengan pemandangan tebing dan lembah yang fantastis dalam nuansa udara yang sejuk. Sebuah perkebunan teh luas akan menyapa Anda ketika Gunung Dempo tepat di depan mata.

Setelah logistik Anda dimuat, tenda dan kantong tidur siap, hal berikutnya yang Anda lakukan adalah menempuh jalan menantang. Dengan ransel yang berat akan mengantar langkah pertama Anda melalui perkebunan teh yang luas. Berjalanlah terus ke depan tanaman teh yang hijau akan digantikan oleh semak-semak liar dan jalan mulai mendaki. Di antara para pendaki gunung, Gunung Dempo dikenal memiliki jalur menantang dengan lereng berliku-liku telah membuat Gunung Dempo menjadi favorit di antara para pendaki. Menegak segarnya air gunung, mendengar kicau burung dan suara hewan lainnya. Berhentilah sejenak untuk mengistirahatkan kaki dan punggung Anda sambil menikmati suasanya alam dan udara yang segar merupakan pengalaman yang tidak terlupakan.

Tidak ada yang bisa menandingi sensasi nikmatnya keberhasilan mencapai puncak gunung. Pendakian yang melelahkan akan terbayar dengan pemandangan yang luar biasa indahnya ditemani luasnya cakrawala di kejauhan. Pengalaman ini merupakan pengalaman yang tidak bisa dibayar dengan sejumlah uang. Anda akan menyaksikan kawah Gunung Dempo yang masih mengepul dan masih aktif. Suasana pemadangan yang Anda abadikan di kamera Anda merupakan piala atas keberhasilan Anda mencapai puncak.
Selain pemadangan gunung yang menantang ini, sisa-sisa budaya prasejarah juga dapat ditemukan di daerah tersebut. Ukiran batu dalam bentuk manusia, hewan dan lainnya tersebar di sepanjang lereng Gunung Dempo. Di dalam Pagar Alam juga terdapat pasar tradisional yang menjual berbagai barang lokal seperti teh, kopi, buah-buahan, dan lainnya yang layak untuk Anda kunjungi.

source: http://www.indonesia.travel/id/destination/571/gunung-dempo-sensasi-pendakian-yang-menantang
Read »

Universitas Sriwijaya

Universitas Sriwijaya merupakan kampus terkemuka yang berada di wilayah Sumatera Selatan. Unsri merupakan Universitas negeri tertua di wilayah Sumsel. Tak ayal, sudah banyak alumni Unsri yang berkarir secara nasional maupun global. Sebut saja, Marzuki Alie (Ketua DPR), Antasari Azhar (Eks-Ketua KPK), Darmasja Djumala (Duta Besar RI untuk Polandia), Armando Mahler (CEO PT Freeport Indonesia) dan masih banyak sederet nama besar lainnya merupakan hasil racikan dan pendidikan yang diberikan di Unsri.

Universitas SriwijayaSemenjak tahun 1994, Unsri memiliki dua buah kampus yang dibagi menjadi kampus reguler yang berlokasi di Indralaya (lebih kurang 32 KM ke arah selatan Palembang) dan Kampus Ekstension yang berlokasi di Bukit Besar Palembang. Hingga kini, Unsri memiliki 10 Fakultas seperti FE, FH, FT, FK, Fasilkom, FP, FKIP, FMIPA, FKM, dan Fisip.

Kini, Unsri tengah menggodok sebagai Research University dan World Class University (WCU) pada 2015. Hal ini sudah dibarengi dengan dibukanya OIA (Office for International Affair) dan menerima mahasiswa asing yang tersebar dari berbagai penjuru dunia untuk belajar di Unsri. Tak kurang dari 100 mahasiswa asing terdaftar. Utamanya, mereka berasal dari India dan Malaysia yang menekuni Kedokteran.
Read »

Stadion Glora Sriwijaya (Glora Jakabaring)

Stadion Gelora Sriwijaya (lebih di kenal dengan nama Stadion Jakabaring) adalah stadion multifungsi terbesar ketiga di Indonesia setelah Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Utama Palaran. Berlokasi di Palembang, Indonesia, stadion ini juga diakui sebagai salah satu stadion terbaik yang bertaraf internasional.[butuh rujukan] Kebanyakan, stadion ini difungsikan untuk tempat penyelenggaraan pertandingan-pertandingan sepak bola. Stadion dengan luas lahan sekitar 40 hektar ini dapat memuat hingga 36.000 - 40.000 orang dengan 4 tribun (A, B, C dan D) bertingkat mengelilingi lapangan. Tribun utama di sisi barat dan timur (A dan B) dilindungi atap yang ditopang 2 pelengkung (arch) baja berukuran raksasa. Bentuk atap stadion merupakan simbol kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di bidang maritim yang dilambangkan oleh bentuk perahu dengan layar terkembang. Stadion ini beralamat di Jalan Gubernur H. A. Bastari, Jakabaring, Palembang.

Stadion Glora Sriwijaya (Glora Jakabaring)
images: id.wikipedia.org
Stadion yang mulai bangun pada tanggal 1 Januari 2001 ini ditujukan untuk menyelenggarakan PON XVI ketika Kota Palembang ditunjuk sebagai penyelenggara pada tanggal 2 September 2004. Stadion ini diberi nama berdasarkan kemaharajaan maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan berhasil mempersatukan wilayah barat Nusantara pada abad 7 sampai dengan abad 12. Selain itu stadion ini juga merupakan markas dari klub sepak bola Indonesia, Sriwijaya FC. Stadion ini dipakai sebagai salah satu stadion yang menyelenggarakan pertandingan dalam Piala Asia 2007 sebagai pendamping Stadion Utama Gelora Bung Karno pada hari pertandingan ketiga dan juga perebutan tempat ketiga.Hasil verifikasi AFC menjadikan Stadion ini satu dari 3 stadion standar A AFC di Indonesia.[1] Stadion ini menjadi stadion utama pada upacara pembukaan dan penutupan SEA Games 2011 di Palembang. (wiki)

Stadion Glora Sriwijaya (Glora Jakabaring)
Stadion Glora Sriwijaya (Glora Jakabaring)
Stadion Glora Sriwijaya (Glora Jakabaring)
Stadion Glora Sriwijaya (Glora Jakabaring)

Read »

Rumah Limas Sumatera Selatan

Rumah Limas

Rumah Limas merupakan prototipe rumah tradisional Sumatra Selatan. Selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat-tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan. Para tamu biasanya diterima diteras atau lantai kedua.

Rumah Limas Sumatera Selatan
Rumah Limas Sumatera Selatan

Bahan rumah

Kebanyakan rumah limas luasnya mencapai 400 sampai 1000 meter persegi atau lebih, yang didirikan diatas tiang-tiang dari kayu unglen atau ulin yang kuat dan tahan air. Dinding, pintu dan lantai umumnya terbuat dari kayu tembesu. Sedang untuk rangka digunakan kayu seru. Setiap rumah, terutama dinding dan pintu diberi ukiran.

Penyebaran

Di Indonesia, rumah limas banyak terdapat didaerah Sumatra Selatan. Sedangkan di Malaysia, rumah limas banyak terdapat di Johor, Selangor dan Terengganu. Kebanyakan rumah limas Johor memiliki kolong, yaitu bagian bawah rumah berpagar dimana fungsinya untuk tempat menyimpan barang. Rumah limas seperti ini biasanya dikenal sebagai rumah baju kurung.(wiki)

Arsitektur 

Bentuk rumah Rumah Limas terdiri dari bentuk ruang persegi dan persegi panjang dengan arah hadap rumah ke timur dan barat atau dalam falsafah disebut menghadap ke arah Matoari eedoop dan mato ari mati. Dalam pemahaman kalangan masyarakat Palembang, mato ari eedoop berarti “matahari terbit” atau secara filosofi diartikan sebagai “awal mula kehidupan manusia”. Sementara mato ari mati jika diterjemahkan secara leksikal berarti “matahari tenggelam” dan dalam artian lain bermakna sebagai tanda dari “akhir kehidupan atau kematian”. Secara personal, sebagai pengingat siklus kehidupan manusia dari lahir hingga mati. Jika dilihat dari tata letak ruang penandaan arah tersebut menunjukkan adanya pembagian bangunan depan dan belakang.

Rumah Limas Palembang dibangun di atas tiang-tiang yang terbuat dari jenis kayu unglen yang berjumlah 32 buah atau kelipatannya. Rumah limas Palembang merupakan rumah panggung yang bagian kolongnya merupakan ruang positif untuk kegiatan sehari-hari. Ketinggian lantai panggung dapat mencapai ukuran 3 meter. Untuk naik ke rumah limas dibuatlah dua tangga kayu dari sebelah kiri dan kanan. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung. Makna filosofis dibalik pagar kayu itu adalah untuk menahansupaya anak perempuan tidak keluar rumah.

Pada bagian lantainya dibuat bertingkat-tingkat atau biasa disebut kekijing dengan menggunakan kayu jenis tembesu yang berbentuk papan (persegi panjang) disusun secara horizontal menurut besaran masing-masing ruang. Sementara pada dinding Rumah Limas dibuat dari kayu jenis merawan yang berbentuk papan, dengan cara penyusunan dan besaran yang sama dengan papan pada lantai.
Pada bangunan depan Rumah Limas Palembang terdapat Jogan, Ruang kerja, Gegajah Pada ruangan ini terdapat Amben (Balai/tempat Musyawarah) yang terletak lebih tinggi dari lantai ruangan (+/- 75 cm). Ruangan ini merupakan pusat dari Rumah Limas digunakan saat pemilik rumah menggelar hajatan, upacara adat, kenduri atau pertemuan-pertemuan penting, interaksi kehidupan sosial serta dekorasi. Sebagai pembatas ruang terdapat lemari yang dihiasi sehingga show/etlege dari kekayaan pemiliki rumah.

Pangkeng Penganten, (bilik tidur) terdapat dinding rumah, baik dikanan maupun dikiri. Untuk memasuki bilik atau Pangkeng ini, kita harus melalui dampar (kotak) yang terletak di pintu yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan rumah tangga. Berikutnya adalah ruang Kepala Keluarga, Pangkeng Kaputren adalah kamar anak perempuan, Pangkeng Keputran adalah kamar anak laki-laki, Ruang Keluarga, dan Ruang Anak Menantu. Semetara pada bagian belakang terdiri dari Dapur atau pawon, Ruang Pelimpahan, dan Ruang Hias/Toilet. Pembagian ruang secara fisik berfungsi batasan aktivitas yang berlangsung di rumah berdasarkan tingkat keprivasiannya.
Secara personal, sikap pribadi masyarakat Palembang menjunjung tinggi kehormatan laki-laki dan wanita. Dan secara sosial, menunjang citra diri kebudayaan Palembang yaitu dengan menjunjung tinggi norma-norma adat yang berlaku di masyarakat. Bentuk rumah yang luas merupakan gambaran kondisi sosial budaya masyarakat Palembang yang menjunjung tinggi sifat kebersamaan dalam bentuk gotong royong.

Namun demikian, dengan bentuk ruang dan lantai berkijing-kijing pada rumah Limas, manandakan bahwa rumah limas memiliki tata aturan sosial yang rapi. Tempat duduk para tetamu pada saat sedekah/kenduri seolah sudah ditentukan berdasarkan status tamu tersebut. Para ulama, pemuka masyarakat, saudagar duduknya pada tempat kijing yang tinggi sedangkan yang lain menyesuaikan diri dengan kedudukannya. Apabila dilanggar maka orang tersebut menjadi kaku, karena rasa segan/canggung ataupun rasa takut dan malu. (rumah adat)
Read »

Jembatan Ampera

Siapa yang tak kenal dengan Provinsi Sumatera Selatan? Sebuah daerahnya “Wong Kita Galo” ini memiliki destinas-destinasi wisata yang sangat beragam. Bumi Pertiwi di kawasan provinsi ini terkesan masih asri, alami, dan terjaga dengan rapi. Salah satunya adalah sang penghubung yang sejarahnya telah melegenda dan merebak dalam memory banyak insan manusia. Yaps… inilah Jembatan Ampera yang tak kalah mempesona akan keindahan cakrawalanya.

Jembatan Ampera
Jembatan Ampera images:via tekooo.com

Mengenalmu Lebih Dekat Mungkin Akan Menambah Taraf Keindahanmu

Sebuah jembatan yang terletak di Kota Palembang ini memang sudah menjadi lambang daerah penghasil pempek. Jembatan nan megah dan menjulur panjang ini seakan menyibakkan Sungai Musi untuk menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Satu-satunya jembatan kebanggaan di Sumatera Selatan ini semakin menambah daya tarik siapapun yang mengunjunginya. Jembatan yang memiliki bobot 944 ton dan tinggi menara 63 meter dari permukaan tanah ini semakin membuktikan bahwa inilah jembatan termegah yang ada di Indonesia. Keindahannya tak tertandingi bak kilauan permata nusantara yang membelalakkan mata.

Ampera, Sejarahmu Akan Selalu Terkenang Dalam Ingatan

Jembatan yang pembangunannya dimulai pada tahun 1962 ini diresmikan oleh Letjend Ahmad Yani pada tanggal 30 September 1965. Waktu kisaran 3 tahun ini rasanya mustahil dapat menghadirkan sosok jembatan nan megah sepanjang 1.177 meter ini dengan lebar yang tidak sedikit yaitu 22 meter. Konon dana pembuatan jembatan ini merupakan hadiah dari Pak Soekarno yang diambil dari dana perampasan perang Jepang yang kala itu juga digunakan untuk membangun Monas di Jakarta. Awalnya jembatan ini bernama Jembatan Bung Karno. Namun nama itu mendapat penolakan dari Bung Karno sendiri, sehingga diganti dengan nama Jembatan Ampera yang berarti “Amanat Penderitaan Rakyat”.

Uniknya Ampera Yang Tubuhmu Dapat Dilipat Bagaikan Kertas

Satu lagi yang istimewa dari Jembatan Ampera ini adalah bagian tengah jembatan ini dapat dilipat ke atas agar kapal-kapal besar yang melintas dapat dengan mudah mengarungi sungai Musi tanpa harus khawatir tersangkut badan jembatan. Hal unik itu mulai dilakukan setelah Jembatan Ampera selesai dibangun dan diresmikan. Namun sayangnya, keunikan tersebut hanya bertahan hingga tahun 1970 saja. Waktu pengangkatan badan jembatan yang relatif lama kisaran 30 menit ini membuat transportasi antara Ulu hingga Ilir menjadi terganggu. Argumen lain karena dianggap sudah tidak ada lagi kapal-kapal besar yang dapat melintasi Sungai Musi akibat pendangkalan yang semakin hari kian parah.

Indahnya Menyusuri Ampera Apalagi Di Malam Hari.

Keindahan megahnya Ampera yang pernah dinobatkan sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara ini memang kerap kali menjadi destinasi utama bagi siapapun yang menyambangi Kota Palembang. Namun jika kamu ingin menikmati indahnya jembatan ini dengan lebih lama, jangan menggunakan kendaraan seperti mobil ataupun motor. Karena jika berhenti di tengah jembatan sedetik saja, polisi akan segera menghampirimu dan menilangmu. Satu-satunya cara untuk dapat lebih dekat memeluk Ampera adalah dengan berjalan kaki menyusuri panjangnya jembatan ini. Apalagi ketika malam datang, dan Ampera mulai menampilkan indahnya akrobat lampu-lampunya. Seakan menambah gairah untuk berhenti lebih lama lagi.

Tunggu apa lagi Guys? Segera jadwalkan liburanmu untuk mengunjungi Si Cantik Ampera ini. Dengan menjadikannya background untuk berfoto ria akan menambah kesenangan tersendiri bagimu ketika mengunjungi Kota Palembang nan kaya akan pempeknya yang pastinya menggiurkan lidah.(Niena)
Read »

Ads

Copyright © 2015 BUMI SRIWIJAYA

Designed by Templatezy